Perlakuan yang dilakukan oleh petani ialah untuk mendapatkan hasil produksi yang maksimal sehinga bisa mencukupi kebutuhan dan kearah kehidupan yang lebih baik. Namun seiring berkembangnya zaman serta kebutuhan konsumen yang semakin meningkat, ada kendala dalam petani yang tentunya sangat berdampak bagi konsumen , baik produsen apabila hal ini teru berlanjut . Yakni, rusaknya tanaman oleh penggangu.Abnormalitas
yang ditunjukkan suatu penyakit dapat hanya setempat atau menyeluruh.
Abnormalitas yang timbul hanya setempat atau hanya terbatas pada daerah
tertentu saja di bagian tubuh tanaman disebut abnormalitas lesional atau lokal,
sedangkan abnormalitas yang timbul pada seluruh tubuh tanaman disebut
abnormalitas sistemik. Beberapa jenis hama tidak hanya memakan bagian tubuh
tanaman tetapi juga mengeluarkan substansi tertentu yang berpengaruh terhadap
pertumbuhan tanaman. Beberapa jenis hama yang lain akan meninggalkan bekas
aktivitas yang khas. Adanya
patogen, salah satu kelompok pengganggu yang menyebabkan sakitnya tanaman, di
dalam tubuh tanaman menyebabkan suatu reaksi. Sebagai akibat dari reaksi
tersebut maka suatu abnormalitas tertentu akan dampak pada tanaman.
Perkembangan selanjutnya bagian patogen atau patogen itu sendiri dapat menampakkan
diri pada permukaan tanaman inang yang abnormal tersebut. Abnormalitas atau
perubahan-perubahan yang ditunjukkan oleh tanaman sakit sebagai akibat serangan
agensia penyebab penyakit (patogen) tersebut disebut gejala. Sedangkan
pengenalan yang ditunjukkan oleh selain reaksi tanaman inang disebut tanda.(Thomas,
A. N. S., 1999). Organisme
Pangganggu Tanaman terdiri dari tiga kelompok pengganggu yaitu hama (binatang
Vertebrata dan Invertebrata), penyakit (Mikoplasma, Virus, Jamur, Bakteri) dan
gulma (rumput-rumputan dan gulma berdaun lebar). OPT tersebut sangat besar
peranannya di bidang pertanian karena sebagai pengganggu tanaman mereka mampu
membuat luka tanaman, luka menyebabkan kerusakan tanaman, selanjutnya kerusakan
tanaman akan berdampak pada penurunan angka hasil dan mutu hasil produksi
tanaman. Akhirnya penurunan angka hasil dan mutu hasil tersebut akan berdampak
pada kerugian. Dalam mengganggu tanaman, pengganggu dapat bekerja
sendiri-sendiri atau dapat bekerja sama antara dua atau lebih pengganggu (vektor,
sinergisme, mengangkut, membuat jalan masuk). Gangguan hama lebih banyak
bersifat mekanik yang prosesnya tidak berkesinambungan, gangguang penyakit
lebih bersifat gangguang fisiologis tanaman yang sifatnya berkesinambungan dan
gangguan gulma lebih bersifat persaingan baik unsur hara maupun cahaya. Dalam rangka mencukupi kebutuhan hidup manusia akan pangan dan sandang,
maka setiap usaha budidaya pertanian mutlak perlu dilakukan perlindungan
tanaman terhadap OPT. Perlindungan tanaman dapat dilakukan melalui berbagai
taktik pengendalian hama dan penyakit (mekanik, fisik, kultur teknis,
penggunaan tanaman tahan hama dan penyakit, hayati, rekayasa genetik,
pemanfaatan senyawa atraktan, repelen, pheromon dan pestisida) yang dilakukan
dalam satu kesatuan pengendalian yang lazim dikenal sebagai PHT
(Pengendalian/Pengelolaan Hama Terpadu). Menghadapi era globalisasi dan
perdagangan bebas beberapa tahun mendatang serta kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi membuat orang sadar akan keamanan pangan dan lingkungan. Untuk
mengantisipasi hal tersebut maka peran perlindungan tanaman menjadi semakin
peting, utamanya perlindungan tanaman yang sifatnya ramah lingkungan dan
tidak menimbulkan dampak residu pestisida.
(Kusnaedi, 2004.)
Di dalam mempelajari ilmu penyakit tumbuhan (Fitopatologi) sebelum
seseorang melangkah lebih lanjut untuk menelaah suatu penyakit secara mendalam,
terlebih dahulu harus bisa mengetahui tumbuhan yang dihadapi sehat ataukah
sakit. Untuk keperluan diagnosis, maka pengertian tentang tanda dan gejala perlu diketahui dengan baik.
Gejala dapat setempat (lesional) atau meluas (habital, sistemik). Gejala
dapat dibedakan yaitu gejala primer dan sekunder. Gejala primer terjadi pada
bagian yang terserang oleh penyebab penyakit. Gejala sekunder adalah gejala
yang terjadi di tempat lain dari tanaman sebagai akibat dari kerusakan pada
bagian yang menunjukkan gejala primer. Fasiasi
pada tanaman cabai tipe kerusakan yang ditimbulkan ialah hiperplastik yaitu
kerusakan yang ditimbulkan karena adanya pertumbuhan sel atau bagian sel yang
melebihi dai pada pertumbuhan yang biasa. Fasiasi ini ialah (Fasciasi,
Fasciation) : suatu organ yang seharusnya bulat dan lurus berubah menjadi
pipih, lebar dan membelok, bahkan ada yang membentuk seperti spiral. Pada
tanaman cabai yang diamati di dalam tabung yang telah di awetkan terdapat
perubahan bentuk batang cabai yang pada batang cabai biasanya bentuk batangnya
ialah bulat berubah menjadi pipih melebar. Sehingga akan membuat batang tanaman
cabai menjadi lemah dan pada akhirnya akan tumbang dan tanaman akan mati.
Fasiasi pada tanaman cabai ini disebabkan oleh patogen yang menginjeksikan
suatu cairan ke dalam batang tanaman sehingga membuat batang pertumbuhan selnya
melebihi pertumbuhan yang biasanya sehingga batang tanaman cabai ini menjadi
rentan dan tidak mempunya daya tegak ke atas sehingga mengakibatkan batang
menjadi roboh. Cara pengendalian fasiasi pada tanaman cabai ini ialah dengan
mencabut tanaman dan membakarnya hal ini bertujuan agar patogen ini tidak
menyebar atau menyerang tanaman cabai yang lainnya. Kerusakan
tanaman oleh pengganggu pada tanaman kentang. Pengganggu ini merusak pada
bagian umbi kentang. Kelas phycomycetes, ordo chytridiales adalah ordo yang
hifanya tidak berkembang dengan sempurna salah satu anggotanya yang penting
adalah synchytrium endobioticum, penyebab penyakit kutil pada umbi kentang
sehingga umbi kentang pada permukaannya terdapat benjolan-benjolan ke luar, dan
apabila umbi tersebut dibelah maka akan terlihat haluan lubang-lubang tempat
ulat-ulat berkembang. Penggerek umbi kentang Penggerek umbi kentang
(Phthorimaea operculella Zell.) merusak umbi kentang di dalam gudang dan
memakan daun kentang di lapangan. Gejala serangannya adalah daun berwarna merah
tua dan tampak adanya jalinan seperti benang yang membungkus ulat kecil
berwarna kelabu. Biasanya daun menggulung karena larvanya bersembunyi di
dalamnya. Sedangkan gejala serangan pada umbi di dalam gudang adalah tampak
adanya kotoran yang berwarna cokelat tua pada kulit umbi. Apabila umbi dibelah,
akan tampak lubang-lubang atau alur-alur. Pemberantasannya di lapanb an adalah
dengan menyemprotkan Tamaron 200 LC (0,2010) atau Orthene 75 SP (0,1 %).
Sedangkan pemberantasannya di gudang adalah dengan menggunakan Sevin 5 D
sebanyak 1,5 kg/ton kentang, atau dengan menaburkan serbuk daun Lantana camara
yang telah dikeringkan setebal 2 cm pada umbi kentang. Penyakit
Penyakit yang sering menyerang pertanaman kentang antara lain sebagai berikut.
Bercak kering Gejala serangannya adalah mula-mula tampak berupa bercak kecil
pada daun-daun bawah, kemudian berkembang. Bercak ini berwarna cokelat dengan
tanda khas berupa lingkaran-lingkaran. Serangan dapat dijumpai pada tangkai
daun, batang, bahkan umbi. Pada tangkai daun dan batang, gejala serangannya
berupa bercak cokelat yang memanjang. Sedangkan pada umbi, bercaknya agak
melekuk, pinggirannya menonjol bulat, dan dalamnya sekitar 0,3 cm. Penyebab
penyakit ini adalah jamur Altenaria solani. Penyakit ini dapat dicegah dengan
Dithane M-45, Blitox-50, dan Antracol. Untuk pengendaliannya sebaiknya kita
menggunakan varietas yang tahan atau penggunaan fungisida yang telah diizinkan
pemakaiannnya. Penyakit tanaman kentang lainnya adalah penyakit layu fusarium,
kanker batang, dan penyakit kudis. Kerusakan
tanaman yang diakibatkan oleh pengganggu pada daun tanaman cabai. Hal ini
disebabkan adanya pertumbuhan sel atau bagian sel yang melebihi dari pada
pertumbuhan yang biasa hal ini terjadi pada bagian daun sehingga menyebabkan
daun tanaman cabai menjadi banyak dan daunnya menjadi keriting. Menggulung atau
mengeritingnya daun cabai gejala ini disebabkan karena pertumbuhan yang
tidak seimbang dari bagian-bagian daun. Gejala menggulung terjadi apabila salah
satu sisi pertumbuhannya selalu lebih cepat dari yang lain, sedang gejala
mengeriting terjadi apabila sisi yang pertumbuhannya lebih cepat bergantian,
sebagai akibatnya suplai makanan tertuju atau terfokus dalam pembentukan daun
sehingga pembentukan buah pada tanaman ini akan berkurang. Penyakit ini disebabkan
oleh virus atau MLO(Mycoplasm Like Organism) yang disebar oleh serangga vektor.
Daun mula berubah bentuk menjadi seperti kerupuk dengan ketebalan melebihi daun
normal.Warna permukaan daun bagian bawah menjadi kasar,tulang daun menebal dan
keriput. Kelainan ini akan menyebar sampai ke pucuk dan daun-daun lain dalam
satu pohon. Hingga akhir pertumbuhan tanaman tertekan dan tidak bisa bertambah
besar, serta konopinya pun mengecil. Pengendalian untuk kerusakan ini ialah
dengan mencabut tanaman cabai yang terserang kemudian membakarnya hal ini
bertujuan agar penyakit tersebut tidak tertular pada tanaman yang lainnya. Kerusakan
tanaman oleh pengganggu pada tanaman kol. Kerusakan yang ditimbulkan merupakan
tipe kerusakan dari hipoplastik atropi yaitu sekumpulan sel pada daerah yang
agak luas pada daun atau batang kol memanjang sehingga bagian itu nampak
membengkak, gejala ini sering disebut dengan gejala busung (cedema). Daun
berbercak kebasahan yang bentuknya tidak teratur. Akibat infeksi bakteri sekunder,
tanaman mengeluarkan bau busuk yang khas. Bakteri Erwinia carotovora
pv.carotovora adalah penyebab utama. Cara pengendaliannya ialah dengan
menyemprotkan baterisida pada tanaman kol yang terserang tersebut, menanam
varietas yang tahan terhadap penyakit, rotasi tanaman selama kurang lebih 3
tahun dengan tanaman yang tidak sejenis dengan siklus ini kehidupan patogen
ataupun penyakit dapat terputus karena kehilangan tanaman inangnya selama
beberapa musim tanaman. Kerusakan
tanaman yang diakibatkan nemathoda pada tanaman Euphorbia hifa, nemathoda tersebut menyerang pada bagian batang
tanaman inangnya. Hal ini dapat dilihat dari benjolan-benjolan yang terdapat
pada batang tanaman inang jika benjolan-benjolan tersebut di belah maka akan
terdapat ulat atau nemathoda yang ada di dalamnya. Nemathoda ini akan mengambil
makanan dari tanaman inangnya sehingga batang tanaman inang akan menjadi rapuh
atau rentan sehingga pada akhirnya tanaman inang lama kelamaan akan mati.
Pengendaliannya ialah dengan menyemprotkan pestisida pada tanaman inang
sehingga nemathoda yang ada di tanaman inang tersebut akan mati. Kerusakan
tanaman yang diakibatkan oleh pengganggu pada daun pisang. Tipe kerusakan yang
ditimbulkan ialah tipe nekrotik nekrosis. sekumpulan sel yang terbatas pada
jaringan tertentu mati, sehingga terlihat adanya bercak-bercak atau noda-noda
yang berwarna coklat atau hitam. Bentuk bercak ada yang bulat, memanjang,
bersudut dan ada yang tidak teratur bentuknya hal ini disebabkan oleh jamur
Cercospora musae. Bagian yang diserang adalah daun dengan gejala bintik sawo
matang yang makin meluas. Pengendalian: dengan menggunakan fungisida yang
mengandung Copper oksida atau Bubur Bordeaux (BB), selain itu juga dapat
dikendalikan dengan menanam varietas yang tahan terhadap penyakit sehingga daya
tumbuhnya dapat maksimal, dengan daerah yang cocok pada perkembangan pisang
tersebut.
Referensi :
Thomas,
A. N. S., 1999, Tanaman Obat Tradisional
I, 99-101, 124-125, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Kusnaedi,
2004. Pengendalian Hama Tanpa Pestisida.
Jakarta, Penebar Swadaya.
Matnawy,
H. 2003. Perlindungan Tanaman.
Yogyakarta, Kanisius.
Laporan praktikum Dasar-dasar perlindungan tanaman
ck ck ck... kok jadi pusing ya bacanya...
BalasHapussaran ni bang, artikelnya udah bagus dan informastif, tapi kok padat gitu ya bang, jadi sakit kepala bacanya..hihiiii
ini aku tulis diwoed dulu bang, haha, baru kupindah di kolom posting blog, gak bisa aku bagusin lagi, tulisan ini aja "false"
Hapushaha..